
“rong puluh ewu wae mas… wis pas kuwi…” itulah sapaan pertama yang aku dapet ketika turun dari bus Santoso jurusan Wonosari – jakarta, tepatnya di daerah mampang jakarta selatan. Kemudian aku jawab ke abang tukang bajaj tersebut juga dengan bahasa jawa, medok lagi. Begitulah,, walaupun kita sudah berada di nun jauh dari tempat asal suku jawa, kita akan dengan mudah menemui orang yang berbahsa atpupun beraksen jawa, sehingga kita merasa masih berada di daerah kita sendiri.
Memang suku jawa saat ini telah menyebar ke berbagai pelosok nusantara, dari Jakarta sampai di tiur jauh indonesia sana, buktinya pada masa-masa krisis dulu banyak sekali kerusuhan-kerusuhan yang bermula dari kecemburuan warga lokal dengan para pendatang yang nota bene berasal dari tanah jawa.
Walaupun begitu, perantau suku jawa masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan masyarakat, mereka akan kalah pamor dengan etnis china ataupun batak, yang sudah terkenal akan kesuksesan mereka ketika merantau.
Namun dengan sifat dan kelakuannya yang ramah dan kalem, kita akan dengan mudah mengenali keberadaannya. Namun sayangnya kebanyakan perantau suku jawa adalah identik sebagai perantau kelas bawah, yaitu hanya menjadi pekerja-pekerja level bawah, semisal menjadi abang tukang bajaj tadi. Namun sebenarnya juga banyak perantau suku jawa yang bekerja di level atas, namun jumlahnya tak seberapa dibanding dengan etnis lain.
Oleh karena itu, sebagai generasi muda suku jawa, ayo kita harumkan nama suku jawa dengan prestasi-prestasi yang membanggakan dimanapun kita berada,,
ndisik-o Hud menko tak susul, nek sak ngertiku kok akeh wong jowo neng ndi2, masalahnya ada 3 provinsi yang menggunakan aksen jawa dalam bahasanya, Jawa Tengah, Jawa Timur, Karo Yogya. Dadine masane akeh
emang ada tiga propinsi yang masarakatnya pake boso jowo… tapi banayk juga kok suku2 yang daerah penyebarannya juga luas,,, tengok ke kalimantan, sumatera atawa papua,,, suku2 disono juga termasuk komunitas yang gede loh,, tapi perantauannya gak sehebat suku jawa… gitcu